Decoy Subjectivity Kills

 

"Saat Subjektifitas Semu Membunuh"

(like too much love will kill you, if u cant make up ur mind)


Tubuh perempuan kerap ditemukan dalam keadaan porak-poranda. Dicacah terlepas daging dan tulang hingga beratus bagian, menggelembung dan meledak karena setiap organnya dikubangi air sungai, meringkuk pasi di dalam kantong plastik lalu teronggok begitu saja di dinginnya senyap hutan. Tubuh lebur itu ditinggalkan oleh pasangan yang seharusnya merawat. Kekerasan tanpa belas kasih ini berpuncak pada pelenyapan nyawa perempuan, yang ironisnya banyak datang dari jarak yang sangat dekat, dari relasi yang semestinya dipenuhi cinta dan menjadi ruang aman.

Kenyataan ini tampak dalam berbagai kasus, bagaimana hak hidup seorang perempuan direnggut begitu saja. Seperti pelajar SMA di Jombang yang dibunuh oleh kekasih dan dua temannya setelah dicekoki minuman keras dan diperkosa, atau Tiara yang dimutilasi oleh kekasihnya menjadi lebih dari 550 bagian. Dua peristiwa itu memperlihatkan bahwa keintiman seksual nyata tak mampu menjadi jangkar pengaman; justru, pembunuhan kerap beriring dengan kekerasan seksual.

Mungkin relasi yang dipijak kedua kasus itu memang pada dasarnya rentan, yakni pacaran dan bahkan koabitasi romantik atau relasi intim non-institusional, yang menyebabkan celah untuk terjadinya kekerasan karena tidak terikat oleh hukum. Namun faktanya, dari data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, pada tahun 2020, pelaku kekerasan terhadap perempuan terbanyak adalah suami. Jakarta Feminist pun mencatat pada 2024, 43 persen kasus femisida bermula dari kekerasan dalam rumah tangga dan setidaknya 209 perempuan dibunuh sepanjang 2024. Ironinya, relasi legal yang tiap haknya dijamin hukum dan seharusnya menghadirkan rasa aman ternyata tidak luput dari terciptanya kebencian, amarah, dan kebengisan yang men-devaluasi perempuan hingga titik terendah, menjadikannya tidak berharga dan patut dilenyapkan dengan brutal.

Seperti halnya pembunuhan dan mutilasi terhadap istri oleh suaminya sendiri di Malang pada 2023, karena tersulut api cemburu dan menuding bahwa istrinya adalah perempuan hina. Ini bukti nyata bahwa status pernikahan dan jaminan hukum formal tidak menghilangkan potensi kekejaman, melainkan seringkali menjadi arena terkunci di mana Decoy Subjectivity menemukan ruang legal untuk beroperasi.

Relasi-relasi menjadi carut-marut oleh narasi dan konsep yang bahkan tidak sepenuhnya dipahami oleh pelaku-pelakunya sendiri. Percepatan peradaban dan berlipatnya makna membuat individu berjarak dengan dirinya, sekaligus berjarak dengan kebutuhannya yang objektif. Keberjarakan itu kemudian diganjar secara serampangan dengan narasi dan konsep-konsep sosial yang tidak berlandaskan pada material ketubuhan otentik individu itu sendiri. Akibatnya, peluang bagi seseorang untuk men-devaluasi nilai individu lain semakin lebar terbuka, bahkan dalam konteks relasi romansa.

Padahal, basis pemahaman material ketubuhan harus mampu dikonstruksi dengan objektif dan jelas, sebab tubuh manusia adalah poros dari segala pola interaksi dan kebutuhan individu untuk berelasi. Sebagai basis, tubuh adalah sistem yang rentan: haus, lapar, letih, cemas. Dari kerentanan inilah lahir kebutuhan fisiologis yang tidak bisa digenapi oleh dirinya sendiri. Basis ketubuhan ini bersifat objektif, baik yang sensible maupun perceptible. Maslow menjelaskan hal tersebut dalam piramida hierarki kebutuhan, bahwa setiap makanan ada petani, setiap rasa aman ada komunitas, setiap cinta ada pasangan, bahkan setiap makna ada orang lain yang mengamini. Dalam hal paling banal secara biologis dan seksual pun, manusia hanya terbagi menjadi dua kategori yakni manusia berpenis dan manusia bervagina, yang satu sama lain saling membutuhkan.

Dengan demikian, kebutuhan pada dasarnya selalu meminta orang lain sebagai pemasok. Dari sini jelas bahwa kebutuhan bukan sekadar daftar dalam piramida, melainkan bukti bahwa manusia selalu berada dalam jaringan relasi. Tanpa orang lain, kebutuhan manusia secara objektif akan selalu timpang. Kebutuhan itupun kemudian hadir sebagai demand, dan relasi antar manusia berlangsung karena adanya supply dan demand, sebuah transaksi kebutuhan yang basisnya sangat materialistik, ketubuhan.

Itulah mengapa manusia pada dasarnya adalah makhluk tidak lengkap, tidak otonom, dan selalu menunjuk ke luar dirinya. Ia membutuhkan yang liyan untuk melengkapi diri. Tubuhnya tidak pernah selesai dengan dirinya sendiri. Dalam kebutuhan seksual pun demikian, “aku ingin bercinta” tidak pernah berhenti pada orgasme sebagai pelampiasan biologis. Hasrat seksual tidak sekadar soal penetrasi atau pelepasan energi tubuh, melainkan selalu membawa dimensi simbolis: keinginan untuk diakui, untuk dianggap ada, untuk mendapatkan legitimasi cinta dari yang lain.

Sayangnya, kebutuhan yang banal ini tidak pernah mudah ditransaksikan secara letterlijk. Transaksi seksual selalu rumit untuk diajukan secara terang, sebab berbagai konsep sosial dan tabu mengitarinya, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Oleh karena itu, jika kebutuhan akan transaksi seksual ini menjadi intensi dasar dalam membangun relasi, namun tatkala individunya tidak memahami kebutuhan objektifnya sendiri, hubungan ini selayak jembatan rapuh. Maka relasi yang rapuh itu pun semakin rancu dan rumpang oleh tumpukan kepentingan lainnya yang menyertai.

Individu di dalamnya akan sangat mudah terperangkap pada Decoy Subjectivity atau ilusi subjektifikasi nilai atas diri. Bahkan satu pihak meninggikan persepsi nilainya dan pihak yang lain didevaluasi. Subjektifikasi nilai ini, alih-alih jujur pada preferensi, jouissance, dan kerentanan objektif dari kebutuhannya, justru ditambatkan ke konsep-konsep relasi artifisial, peran-peran yang ditimpakan oleh sosial bahkan dogma-dogma agama. Padahal, eksistensi selalu mendahului esensi. Objektifitas tubuh harusnya terkonstruksi lebih dulu daripada konsep, simbol, atau peran yang kita bayangkan atas diri.

Subjektifikasi yang semestinya merupakan konstruksi rasional atas material objektifnya, sebagai upaya untuk memberikan nilai dan etik pada relasi itu sendiri menjadi gagal memberikan dampak positif karena malah mengabaikan dasar kebutuhan ketubuhan. Sehingga desire yang mendesak dari ketubuhannya itu mengendap menjadi gumpalan energi yang mentah, liar dan banal.

Pada titik inilah laki-laki yang terinternalisasi konstruksi idealisme yang memuat superiority complex seperti patriarki, feodal, ataupun dogma-dogma agama, sering kali terjerumus sebagai pelaku Decoy Subjectivity yang membuat ketimpangan persepsi nilai dalam relasi. Material ketubuhan yang cenderung lebih banal secara seksual sering kali tidak memiliki narasinya, dan sosial yang tidak memberikan diktum konkret untuk membangun transaksi relasi romansa maupun seksual yang sehat dan berkesetaraan.

Kegagalan untuk menyelarasan dan mengenali seks kebutuhan objektif, perjumpaan tubuh yang menuntut consent, kesepahaman, dan dialog kerentanan, membuat ilusi ego laki-laki menutupi banalitas desire dengan siasat, manipulasi, dan tipuan. Relasi lalu tidak berangkat dari dialog kebutuhan, melainkan dari klaim dominasi. Subjektifikasi semu ini menjadi kedok, sebuah decoy, yang mengaburkan kebenaran paling mendasar: bahwa ia sebenarnya tidak lengkap dan membutuhkan yang lain.

Siasat ini acapkali membuat transaksi seksual tidak hadir dengan konsensus yang jelas akan berubah menjadi arena manipulasi. Relasi yang mestinya ditopang oleh kesepahaman tubuh dan kesepakatan simbolis justru dibubuhi paksaan, jebakan, atau tipu daya. Seks yang lahir tanpa konsensus tidak lagi menjadi ruang berbagi, melainkan medan relasi kuasa.

Di sinilah laki-laki sering terjebak, membangun persepsi nilai diri bukan dari pengakuan kebutuhan objektifnya, melainkan dari citra-citra semu yang dilekatkan oleh sosial, budaya, atau egonya sendiri. Ia berlindung dalam Imaginary Lacanian: bayangan tentang dirinya sebagai sosok utuh, berdaulat, dan dominan, padahal tubuhnya sendiri rapuh dan penuh kekurangan. Ego ilusioner itu kemudian ditopang oleh dorongan untuk menaklukkan liyan, seolah-olah dengan menguasai tubuh perempuan, kekurangan dirinya bisa ditutup.

Tiga kasus yang telah disebut di awal memperlihatkan jebakan ini dengan telanjang. Ketiganya berakar pada Decoy Subjectivity yang menimpa laki-laki. Mereka memanipulasi transaksi, menutup ruang dialog atas kebutuhan objektif perempuan, dan justru membangun relasi kuasa di atas ilusi ego yang subjektif. Maka, ketika tubuh perempuan tidak memberi respon sesuai dengan ekspektasi subjektif yang mereka bangun, kebencian, yang dipicu kecemburuan atau kejengkelan, menyeruak dan berubah menjadi agresi.

Dalam kerangka Lacan, hal ini adalah bentuk kegagalan menerima lack atau kekurangan fundamental dalam diri. Alih-alih mengakui kerentanan tubuhnya, laki-laki justru berusaha menutupi kekurangan itu dengan men-devaluasi perempuan. Kekerasan pun hadir sebagai jalan pintas untuk meneguhkan ego ilusioner. Inilah titik di mana Decoy Subjectivity menjadi benih femisida: ketika ilusi nilai diri lebih dikedepankan daripada pengakuan akan kerentanan tubuh dan kebutuhan riil yang mengikat relasi.

Namun, Decoy Subjectivity ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia dipelihara dan diwariskan oleh konstruksi sosial yang patriarkal, ditopang neoliberalisme yang menaruh cinta dan tubuh dalam logika pasar. Relasi dituntut produktif, cinta diperlakukan sebagai kapital, keluarga dijadikan unit produksi stabil. Norma keluarga menekankan laki-laki sebagai kepala rumah tangga yang tak boleh goyah, perempuan sebagai penjaga moral yang harus patuh. Subjektifikasi semu ini diwariskan turun-temurun.

Situasi konstruksional yang sejak awal menolak mengakui lack atau kekurangan, membentuk laki-laki untuk percaya bahwa mereka harus utuh, berkuasa, dan tidak boleh goyah. Kerentanan tubuh ditutup rapat, kebutuhan objektif diabaikan, dan diganti dengan narasi keperkasaan, dominasi, serta hak istimewa atas tubuh perempuan.

Dalam kerangka itu, laki-laki dididik untuk menjadikan tubuh perempuan sebagai medium validasi atas ego mereka. Perempuan tidak lagi hadir sebagai subjek dengan kebutuhan objektifnya sendiri, tetapi direduksi sekedar alat untuk membenarkan persepsi nilai laki-laki. Decoy Subjectivity lalu menjadi semacam mekanisme sosial yang dilegalkan: ilusi bahwa dengan menaklukkan perempuan, laki-laki mengokohkan dirinya. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah penutupan rapuhnya kebutuhan riil tubuh laki-laki yang tidak pernah diakui.

Kasus femisida yang terjadi berulang kali adalah bukti bagaimana konstruksi ini bekerja. Ketika perempuan menolak, atau ketika kebutuhan objektifnya tidak sinkron dengan ekspektasi laki-laki, ilusi subjektif laki-laki runtuh. Runtuhnya ilusi itu menimbulkan rasa terancam, seolah-olah seluruh nilai dirinya ambruk dan mengaktifkan gumpalan energi yang mentah, liar dan banal yang mewujud agresi irasional. Pada titik inilah kekerasan muncul sebagai kompensasi. Tubuh perempuan dijadikan korban, dihancurkan, bahkan dimusnahkan, demi menjaga bayangan ego yang dibangun oleh sosial.

Oleh karena itu, kasus femisida adalah extraordinary crime, karena tidak bisa disamakan dengan pembunuhan yang berbasiskan tindak criminal biasa, misal perampokan atau duel mati. Ini adalah pembunuhan berbasis gender yang didasari oleh kebencian dan Decoy Subjectivity yang dialami laki-laki, yang menganggap perempuan selalu manusia nomor dua, nilainya di bawah laki-laki, dan patut dihilangkan. Maka, pembunuhan pun tidak cukup, kebengisan dan ketegaan pun jadi neraka.


by: Adg

Komentar

Postingan Populer